Wilayah Gayo terkenal dengan dataran tingginya yang sejuk, namun bagi para atlet renang, kondisi geografis ini menghadirkan tantangan tersendiri berupa suhu air yang ekstrem. Melakukan latihan di air dingin Gayo memerlukan kesiapan fisik dan pengetahuan medis yang mumpuni agar performa tetap terjaga tanpa mengorbankan keselamatan. Salah satu risiko terbesar yang menghantui para atlet mahasiswa saat berlatih di kolam terbuka atau sumber air alami di daerah ini adalah penurunan suhu tubuh secara drastis, yang jika tidak diantisipasi, dapat berujung pada kondisi medis serius.
Hipotermia terjadi ketika tubuh kehilangan panas lebih cepat daripada kemampuannya untuk menghasilkan panas, menyebabkan suhu tubuh turun di bawah 35 derajat Celsius. Dalam konteks olahraga air, air dingin dapat menyerap panas tubuh hingga 25 kali lebih cepat daripada udara. Bapomi memahami bahwa atlet yang memaksakan diri berlatih dalam kondisi menggigil hebat, koordinasi geraknya akan mulai menurun, pernapasan menjadi dangkal, dan detak jantung bisa menjadi tidak teratur. Oleh karena itu, protokol keselamatan menjadi harga mati dalam setiap sesi latihan di dataran tinggi.
Mengenali Gejala Awal dan Respon Tubuh
Langkah pertama dalam cara Bapomi melindungi atlet adalah dengan memberikan edukasi mengenai fase-fase kedinginan. Gejala awal sering kali dimulai dengan gemetar yang tidak terkendali, yang merupakan mekanisme alami tubuh untuk menghasilkan panas melalui aktivitas otot. Namun, jika atlet mulai merasa kebas pada ujung jari tangan dan kaki, serta mengalami kesulitan dalam melakukan pembalikan (turning) di kolam, itu adalah sinyal kuat bahwa tubuh sudah mulai kewalahan. Bapomi menekankan bahwa rasa “nyaman” yang tiba-tiba muncul saat berada di air yang sangat dingin justru merupakan tanda bahaya bahwa sensor saraf mulai mati rasa.
Selain dampak fisik langsung, suhu air yang rendah juga memengaruhi mental atlet. Fokus akan terpecah antara menyelesaikan program latihan dan rasa sakit akibat dingin. Hal ini meningkatkan risiko kesalahan teknik yang bisa memicu cedera otot lainnya. Oleh karena itu, durasi latihan di air dingin harus disesuaikan secara dinamis berdasarkan suhu air pada hari tersebut, bukan hanya berdasarkan target jarak tempuh semata.
