Kabupaten Gayo Lues, yang sering dijuluki sebagai “Negeri Seribu Bukit“, kini mulai melirik potensi besar di sektor pariwisata berbasis olahraga. Melalui inisiatif para mahasiswa dan pegiat olahraga, kegiatan jelajah jalur lari Gayo Lues kini menjadi magnet baru bagi para pencinta aktivitas luar ruangan. Medan yang menantang, dikombinasikan dengan udara pegunungan yang sangat bersih, menjadikan wilayah ini sebagai laboratorium alam bagi para atlet untuk menguji ketahanan fisik sekaligus memanjakan mata dengan pemandangan yang tiada duanya. Bagi para peserta, setiap langkah di lintasan ini bukan sekadar upaya mencapai garis finis, melainkan perjalanan spiritual di tengah kemegahan alam Aceh.
Salah satu alasan mengapa kawasan ini disebut sebagai destinasi sport tourism BAPOMI paling estetik adalah keragaman lanskapnya. Jalur lari di sini melintasi perbukitan pinus yang menjulang tinggi, lembah hijau yang tertutup kabut tipis di pagi hari, hingga perkebunan kopi yang aromanya menyeruak di sepanjang lintasan. Para pelari mahasiswa sering kali memanfaatkan momen ini untuk mendokumentasikan perjalanan mereka, karena setiap sudut lintasan menawarkan latar belakang foto yang sangat ikonik. Tidak hanya mengandalkan keindahan visual, elevasi yang bervariasi di Gayo Lues juga memberikan latihan beban jantung (cardio) yang sangat efektif, menjadikannya lokasi ideal untuk pemusatan latihan atlet lari jarak menengah dan jauh.
Integrasi antara olahraga dan pariwisata di Gayo Lues dikelola dengan melibatkan komunitas lokal untuk menjaga keaslian rute. Dalam kegiatan jalur lari ini, para pelari tidak jarang melewati pemukiman penduduk asli yang ramah, memberikan kesempatan bagi para mahasiswa untuk mengenal lebih dekat kebudayaan lokal, termasuk arsitektur rumah tradisional dan kerajinan tangan khas Gayo. Hal ini menciptakan pengalaman sport tourism yang holistik; atlet tidak hanya pulang dengan tubuh yang lebih bugar, tetapi juga dengan wawasan budaya yang lebih kaya. Keberadaan jalur-jalur lari yang tertata rapi ini secara langsung mendorong peningkatan ekonomi kreatif di sekitar lokasi, seperti penginapan ramah lingkungan (homestay) dan kedai kopi lokal.
