Secara ilmiah, melakukan Latihan di Atas Awan memiliki keunggulan yang tidak bisa didapatkan di dataran rendah. Di ketinggian seperti di wilayah ini, kadar oksigen di udara jauh lebih tipis. Kondisi ini memaksa tubuh untuk beradaptasi dengan cara memproduksi lebih banyak sel darah merah secara alami. Bagi para atlet mahasiswa, ini adalah bentuk doping alami yang legal dan sehat. Ketika mereka turun ke dataran rendah untuk berkompetisi di tingkat nasional atau provinsi, paru-paru mereka sudah terbiasa bekerja secara efisien dalam kondisi oksigen terbatas. Hal inilah yang menjadi rahasia mengapa mereka seolah-olah memiliki cadangan stamina tanpa batas saat berada di arena pertandingan.
Proses peningkatan kapasitas fisik ini dilakukan melalui berbagai macam aktivitas, mulai dari lari lintas alam (trail run) mendaki perbukitan hingga latihan penguatan otot di area terbuka yang diselimuti kabut. Video-video yang memperlihatkan ketangguhan para mahasiswa ini saat berlari menembus awan seringkali menjadi viral di media sosial. Banyak netizen yang terpukau dengan dedikasi para pemuda ini yang tetap konsisten berlatih meskipun suhu udara sangat dingin dan medan yang dihadapi sangat terjal. Keindahan alam yang menyertai setiap sesi latihan juga memberikan nilai estetika tersendiri yang membuat konten-konten mereka cepat tersebar luas di internet.
Namun, membangun kekuatan fisik di daerah pegunungan seperti Gayo Lues tidak hanya soal berlari. Para pembina olahraga di sana juga mengintegrasikan kearifan lokal dalam pola makan dan pemulihan tubuh. Mereka memanfaatkan sumber pangan organik yang tumbuh subur di dataran tinggi untuk menunjang kebutuhan energi harian. Kombinasi antara latihan berat di udara tipis dan asupan nutrisi murni tanpa bahan kimia menciptakan mesin fisik yang sangat efisien. Mahasiswa yang terlibat dalam program ini melaporkan bahwa mereka merasa lebih bugar dan jarang mengalami kelelahan mental, yang merupakan faktor penting dalam keberhasilan akademik mereka di kampus.
Keunggulan lain dari metode ini adalah pembentukan mentalitas yang tangguh. Berlatih di medan yang sulit dengan cuaca yang sering kali tidak menentu melatih para mahasiswa untuk memiliki daya juang yang tinggi. Mereka belajar bahwa untuk mencapai hasil yang maksimal, diperlukan kesabaran dan ketekunan dalam menghadapi rintangan alam. Mentalitas “pantang menyerah” ini kemudian terbawa ke dalam setiap pertandingan yang mereka ikuti. Lawan sering kali merasa kewalahan menghadapi intensitas permainan atlet dari daerah ini yang seolah tidak pernah kehabisan napas hingga menit terakhir pertandingan berakhir.
