Melatih olahragawan di wilayah geografis berkarakteristik khusus memberikan keuntungan fisiologis alami yang tidak dimiliki oleh wilayah dataran rendah. Jajaran tim medis BAPOMI Gayo Lues mengoptimalkan potensi alam tersebut melalui pemantauan intensif terhadap tingkat adaptasi paru atlet yang melakukan program pemusatan latihan di kawasan pegunungan. Studi fisiologi lingkungan ini berfokus pada analisis kapasitas vital organ pernapasan saat dihadapkan pada kondisi dataran tinggi atmosfer yang memiliki kadar oksigen relatif lebih rendah dibandingkan kawasan pesisir pantai. Latihan adaptasi lingkungan ekstrem ini menjadi modal berharga bagi tim dalam membidik capaian tinggi, termasuk target meraih posisi podium juara dalam kejuaraan olahraga multicabang tingkat regional yang akan datang.
Mekanisme Fisiologis Aklimatisasi Oksigen Rendah
Ketika seorang olahragawan berpindah tempat latihan ke kawasan dataran tinggi, sistem pernapasan mereka dipaksa untuk bekerja ekstra keras guna memenuhi kebutuhan pasokan oksigen seluler. Kondisi lingkungan yang minim oksigen (hipoksia) bertindak sebagai stimulus alami bagi ginjal untuk memproduksi hormon eritropoietin (EPO) dalam jumlah yang lebih tinggi. Hormon ini berfungsi memicu sumsum tulang untuk memproduksi sel darah merah baru.
Peningkatan jumlah sel darah merah secara otomatis memperbesar kapasitas ikat oksigen dalam darah. Bersamaan dengan proses tersebut, terjadi proses kapilerisasi atau pembentukan jaringan pembuluh darah kecil baru di dalam otot, serta peningkatan volume rongga paru. Proses penyesuaian biologis alami inilah yang dikenal dengan istilah aklimatisasi, yang membutuhkan waktu paparan konsisten selama beberapa minggu agar hasilnya optimal.
Keunggulan Efek Latihan Ketinggian bagi Stamina
Keuntungan sejati dari program latihan di kawasan pegunungan ini akan terlihat nyata ketika para atlet kembali turun untuk bertanding di kawasan dataran rendah. Dengan jumlah sel darah merah yang telah meningkat dan kapasitas paru yang lebih efisien, sistem kardiovaskular atlet dapat menyalurkan oksigen ke seluruh jaringan otot secara jauh lebih lancar dan melimpah.
Atlet menjadi tidak mudah terengah-engah, tingkat akumulasi asam laktat di dalam darah dapat ditekan, dan ambang batas kelelahan (aerobic threshold) menjadi jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan lawan bertanding yang hanya melakukan latihan harian di kawasan pesisir. Keunggulan fisik alami inilah yang menjadikan metode latihan ketinggian (high-altitude training) sebagai standar emas bagi cabang olahraga yang menuntut daya tahan tinggi seperti lari jarak jauh, balap sepeda, dan sepak bola.
